Rumah Si Pitung yang Bukan Rumah Pitung

net-world

FLUKSI

Rumah Si Pitung yang Bukan Rumah Pitung

Sebuah surat kabar Hindia-Olanda pada tahun 1892 memberitakan sosok yang dikenal sebagai Si Pitung . Polisi Belanda di Batavia kala itu menggeledah sebuah rumah yang diduga sebagai rumah milik Si Pitung. Ditemukan sejumlah uang Gulden (mata uang Belanda) yang diyakini sebagai hasil curian dari Nyonya De C dan Haji Saipuddin seorang saudagar Bugis di Marunda,  Jakarta Utara.

Bagi pemerintah Belanda, nyawa pitung dihargai sebesar 400 Gulden, harga yang terbilang tinggi bagi anak yang lahir di lingkungan Rawa Belong,  Jakarta Barat.

Saya sempat berkunjung ke Rumah Si Pitung di desa Merunda, Cilincing, Jakar Utara dan sempat berkenalan dengan seorang warga di sana yang bernama Ilham (42). Ilham menceritakan tentang sejarah rumah Pitung yang diketahuinya secara turun-temurun.

Pitung bukanlah warga Marunda kata Ilham. Bahkan rumah yang diberi nama Rumah Si Pitung adalah pemberian nama dari Museum Nasional pada tahun 1972. Warga Marunda sejak dulu lebih mengenal rumah tersebut sebagai milik…

Lihat pos aslinya 214 kata lagi

Sejarah Kecil Taman Lawang

Sejarah Kecil Taman Lawang
Sekitar 04.00 WIB pagi, Kamis (10/3/2011), terdengar letusan tembakan di Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat.  Shakira, seorang waria  tewas  dengan dua buah peluru yang bersarang di dadanya, sedangkan rekannya, Venus dan Tantan mendapatkan luka serius dengan luka tembak di bagian dada dan pinggang.

Jalan Latuharhary, tepatnya di Taman Lawang, dikenal sebagai pusat berkumpulnya waria di Jakarta. Sedikit bercerita tentang lokasi ini yang juga berada di dalam daerah Menteng, dulunya oleh pihak Belanda di Batavia ingin membangun sebuah proyek kota kecil yang disebut sebagai Niew Gondangdia (Menteng).

Dari berbagai sumber, pola rancangan  tersebut dibuat oleh seorang arsitek asal Belanda P.A.J Moojen pada tahun 1910 yang telah disetujui oleh Gemeente (Kota Praja). Pembangunan Niew Gondangdia sendiri dimulai pada tahun 1912 dan disempurnakan oleh F.J kubatz pada tahun 1918. perbedaan rancangan keduanya terletak pada peniadaan lapangan bundar, diganti dengan Taman Suropati yang jauh lebih kecil. Sisa lapangan luas tersebut kemudian hari dipakai untuk lapangan olahraga.

Lalu bagaimana kemudian para waria bisa berkumpul di Taman Lawang tersebut? Kordinator Arus Pelangi Widodo Budidarma, LSM yang mengurusi hak-hak waria, bercerita kepada saya , pada awal tahun 1970, para waria menjadikan Taman Lawang untuk berkumpul dan berbagai cerita tentang kehidupan mereka. Sebelumnya, sebutan waria sebelum tahun 1970 adalah ‘Wadam’.

Dodo menjelaskan, saat itu para waria belum menjadikan Taman Lawang sebagai tempat prostitusi atau para waria tersebut bahkan tidak menjajakan diri mereka kepada para ‘konsumen’. “Saat itu jumlahnya masih sedikit dan menjadikan Taman Lawang sebagai tempat mejeng,” ujar Dodo sapaan akrab Widodo.

Hingga kemudian pada sekitar tahun 1973, beberapa lelaki mulai menggoda dan merayu para waria dengan menawarkan uang. Hal itu tentunya juga menggoda waria untuk melakulan apa yang diminta para pria tersebut, meski, lanjut Dodo, tidak semua waria melakukan hal tersebut. “Banyak laki-laki yang tahu dan menggoda. Akhirnya ada yang keterusan,” katanya.

Berkumpulnya waria di Taman Lawang, juga tidak lepas dari campur tangan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin kala itu. Ali Sadikin, menurut Dodo, saat sempat mengatakan bahwa Taman Lawang boleh dijadikan sebagai tempat berkumpulnya waria.

“Ini ada ruang berkumpul buat teman teman waria. Memang Waria harus diakomodir untuk hal positif misalnya entertain dan olahraga,” kata Ali Sadikin kala itu.

Tidak hanya itu, Ali Sadikin juga mengundang waria untuk bertemu dengannya, pada pertemuan itu, Ali Sadikin mengusulkan untuk membentuk perkumpulan waria, hingga pada tahun 1973 dibentuk Persatuan Waria Jakarta (PWJ).

“Mulai saat itulah waria eksis dan dibawa masuk ke dalam dunia entertain.  Selepas kerja, waria akan kembali berkumpul di Taman Lawang,” terangnya.

Dodo menyebutkan, hingga September 2010, jumlah waria yang terdata sebanyak 4.200 waria di Jakarta, dan tidak semua waria melakukan praktek prostitusi. “Dari jumlah itu hanya sekitar 400 orang yang melakukan praktek prostitusi dan untuk prostusi adalah hak masing masing,” katanya.

Tidak hanya di Taman Lawang, waria di Jakarta Selatan berkumpul di daerah Jalan Prapanca, Jakarta Timur di sekitar penjara Cipinang, Jakarta Utara di Plumpang, dan Jakarta Barat daerah seputar Grogol. “Kegiatan kita juga seperti keadaan olah raga, kebaktian dan pengajian rutin,” tuturnya.

Dodo sendiri menceritakan, dirinya pertama kali bergabung ke Taman Lawang sekitar tahun 1995. Baginya, berkumpul di Taman Lawang tidak harus melakukan praktek prostitusi.

“Saya pulang kerja dan berdandan, lalu menuju Taman Lawang. Saya tidak pernah melakukan praktek prostitusi di sana, karena di sana juga tempat untuk berkumpul,” jelasnya.

Dodo sempat menyebutkan beberapa temannya kini sudah terkenal, seperti Cheny Han yang saat ini menjadi designer ternama dan pernah mengikuti Miss Waria sedunia. Selain itu nama Dorce juga sempat disebut pernah bergabung di Taman Lawang.

Bagi Dodo, waria juga sebagai warga negara berhak mendapatkan hak-hak atas kewarganegaraannya dan tidak melakukan diskriminasi terhadap waria. Penembakan terhadap 3 waria beberapa waktu lalu harusnya menjadi pelajaran juga untuk menjaga keselamatan waria.

Kisah Warga Jepang Mencari Keluarga Mereka Setelah Tsunami

Kisah Warga Jepang Mencari Keluarga Mereka Setelah Tsunami

Jepang porak-poranda akibat tsunami setinggi 14 meter. Salah satu kawasan yang berdampak parah, adalah Prefektur Miyagi. Daerah ini kini tampak seperti hamparan tanah lapang dengan tumpukan bangkai-bangkai besi, kayu, dan tubuh manusia.

Seperti yang diberitakan Time, Selasa (15/3/2011), Jalan-jalan di Sendai, Ibukota Miyagi, basah dengan genangan air laut dan lumpur. Beberapa warga terlihat berada di jalan, mencari sanak keluarganya yang hilang.

Salah satunya adalah Masahira Kasamatsu (76), seorang petani dari luar kota Sendai. Masahira datang bersama istrinya Emiko untuk mencari harta miliknya yang paling berharga, Yoko Oosato, anak perempuannya yang tinggal di Sendai.

“Saya sedang mencari anak saya. Namanya Yoko Oosato apakah anda melihatnya?” kata Masahira.

Putri Masahira, Yoko, telah tinggal di Sendai selama lebih dari 30 tahun. Putrinya bekerja di Bandara Sendai yang ikut hancur akibat luapan air laut dan gempa bumi. Bandara sendiri dipenuhi dengan puing-puing, lumpur, bangkai-bangkai mobil dan pesawat.

Masahira menceritakan, usai gempa dan tsunami pada 11 Maret 2011 lalu, bersama istrinya, dirinya berangkat menuju sendai mengendarai mobil pribadi mereka, untuk mencari Yoko. Masahira menghubungi anaknya sejak tsunami menghantam Sendai, sayangnya panggilan telepon tersebut tidak membuahkan hasil.

Butuh waktu 3 hari untuk mencapai Sendai. Jalan-jalan yang menuju Bandara Sendai hampir tidak bisa dilewati. Di tengah jalan, bahan bakar kendaraan Masahira habis, Masahira dan Emiko menghabiskan malam di mobil mereka, tanpa penghangat dan bahan bakar. Keesokan harinya, Masahira memutuskan untuk berjalan kaki guna mencapai bandara Sendai.

“Saya tahu begitu banyak yang mati di dalam bandara,” ujarnya.

Saat memasuki bandara Sendai, Masahira dapat melihat tumpukan mobil setinggi 6 meter dan beberapa pohon pinus yang menjebol dinding-dinding bangunan.

“Saya tahu bahwa anak saya mungkin hanya satu, di antara begitu banyak mati. Tapi harapan saya yang paling dalam adalah bahwa dia masih hidup. Itulah satu-satunya doa saat ini,” kata Masahira.

Tidak hanya Masahira dan Emko yang mencari ‘harta berharga’ miliknya, ribuan keluarga Jepang terus mencari keluarga mereka yang menghilang setelah tsunami terbesar yang pernah melanda Jepang.

Di Jepang Utara, keluarga terus mencari sanak famili mereka yang hilang. Mereka masih belum mengetahui apakah orang-orang yang mereka cintai masih hidup atau sudah tewas. Sekitar 10.000 orang masih dinyatakan hilang hingga saat ini.

Rumah Si Pitung yang Bukan Rumah Pitung

Rumah Si Pitung yang Bukan Rumah Pitung

Sebuah surat kabar Hindia-Olanda pada tahun 1892 memberitakan sosok yang dikenal sebagai Si Pitung . Polisi Belanda di Batavia kala itu menggeledah sebuah rumah yang diduga sebagai rumah milik Si Pitung. Ditemukan sejumlah uang Gulden (mata uang Belanda) yang diyakini sebagai hasil curian dari Nyonya De C dan Haji Saipuddin seorang saudagar Bugis di Marunda,  Jakarta Utara.

Bagi pemerintah Belanda, nyawa pitung dihargai sebesar 400 Gulden, harga yang terbilang tinggi bagi anak yang lahir di lingkungan Rawa Belong,  Jakarta Barat.

Saya sempat berkunjung ke Rumah Si Pitung di desa Merunda, Cilincing, Jakar Utara dan sempat berkenalan dengan seorang warga di sana yang bernama Ilham (42). Ilham menceritakan tentang sejarah rumah Pitung yang diketahuinya secara turun-temurun.

Pitung bukanlah warga Marunda kata Ilham. Bahkan rumah yang diberi nama Rumah Si Pitung adalah pemberian nama dari Museum Nasional pada tahun 1972. Warga Marunda sejak dulu lebih mengenal rumah tersebut sebagai milik Haji Saipuddin, korban perampokan Pitung.

Bahkan menurut Ilham, tidak ada keturunan dari Si Pitung yang tinggal di desa tersebut, sementara silsilah keluarga Haji Saipuddin tidak terlacak lagi oleh warga setempat.

Ilham terkenang memori berpuluh tahun yang lalu, sebuah rumah  panggung tinggi dengan kaki-kaki tiang yang berdiri kokoh hingga saat ini, wanita-wanita dulunya bekerja menumbuk padi dengan kayu yang jika diangkat tidak sampai mengenai dinding bawah rumah.

Rumah Pitung sendiri beridiri dilahan seluas 2000 meter persegi dan jika naik ke atas rumah tersebut maka hanya akan ditemukan sebuah kamar tidur. Dibagian depan rumah ditemukan kursi dan beranda, lalu melongok ke dalam ruang tamu mak ahanya terdapat barang-barang replika dari jaman dulu seperti foto, lukisan, dan lemari.

‘Tidak boleh disentuh’, begitulah tulisan yang tertempel dihampir seluruh barang replika tersebut. Beberapa tulisan juga yang terdapat di dalam rumah itu menegaskan bahwa rumah itu milik Haji Saipudin, bukan milik dari pahlawan Betawi tersebut. Tulisan sejarawan Betawi Ridwan Saidi yang berjudul ‘Si Pitung: Perampok atau Pemberontak’ menceritakan bahwa apa yang dikenal di Marunda sebagai rumah Si Pitung adalah sesungguhnya adalah milik Haji Saipuddin.

Masih dalam pemberitaan koran Hindia-Olanda tahun 1893, Pitung menemui ajalnya saat terjadi baku tembak dengan seorang opsir Belanda yang bernama Hinne. Robin hood asal Betawi tersebut tewas dengan dua butir peluru yang bersarang di dadanya,

 

Blog di WordPress.com.

Atas ↑